Bersyukur Karena (Pernah) Mencinta – Derita Abadi 2

Aku bukan jenis orang yang suka ingin tahu urusan orang lain. Sebagian temanku malah bilang aku ini terlalu cuek, kurang perhatian. Aku rasa mereka salah menilai. Sebeanrnya aku suka memperhatikan orang. Aku juga suka memberi perhatian, pada orang-orang tertentu, seperti Guruku.

Aku tidak mau ikut campur urusan Guruku. Meski beliau termasuk orang yang aku perhatikan dan aku suka bila bisa memberi dia perhatian. Makanya aku agak ragu mengambil sikap.

Aku ingat keadaannya ketika aku pergi meninggalkannya kemarin. Wajahnya keras dan pucat. Jauh berbeda dari keadaannya yang biasa. Saat itu aku tak mau usil dengan bertanya-tanya. Meski hatiku mengajukan banyak pertanyaan. Dan semakin aku pikirkan, aku jadi makin khawatir akan keadaannya.

Hari ini aku sempatkan bertandang. Sebagian karena rasa ingin tahu. Sebagian yang lebih besar karena kekhawatiran.

Aku jumpai beliau masih mampu berdiri tegak. Raut wajahnya masih belum menunjukkan senyum, pertanda bahwa apa pun yang mengganggu pikiran atau pun perasaannya, masih belum pergi.

Sebelah alis matanya naik, seolah menanyakan kedatanganku. Situasi ini membuatku serba salah, menambah gelisah. Dan aku tak mampu menyatakan maksud kedatanganku yang sesungguhnya.

“Saya hanya ingin berterima kasih atas petuah Guru kemarin. Barangkali ada petuah lain untuk Saya?” akhirnya hanya itu yang bisa keluar dari lidahku.

Guru menggeleng lemah. Dia hanya berucap singkat. “Nanti kukirim pesan”.

-o0o-

Jelang malam, baru kuterima pesan dari Guru. Ini:

“Bersyukurlah karena pernah mencinta. Karena cinta adalah karuniaNya. Dan cinta itu penuh kebaikan. Kebaikan yang tetap ada meski cinta tak terbalas. Kebaikan yang masih menetes meski cinta tak menyatukan hati. Kebaikan yang menjadi abadi karena cinta adalah abadi.”

“Maka bersyukur karena pernah mencinta hanyalah satu bentuk syukur atas karuniaNya. Dan kebaikan yang dialirkannya tak layak diputus begitu saja. Karena kebaikan mestinya abadi, seabadi cinta.”

-o0o-

Berulangkali aku baca pesan Guru. Lagi dan lagi. Kucoba menyelami makna di balik arti yang sebenarnya sudah jelas.

Aku sungguh tak tahu, … apakah Guru mengirim ini semata sebagai nasihat buatku yang terpuruk, merasa kecewa dan sakit hati ataukah ini hasil perenungan mendalam atas luka deritanya sendiri.

-o0o-

Bumi Allah, Awal Desember 2018

Nurayny T. Az Zahra