Derita Abadi

Menuliskan sesuatu akan mengabadikannya”, kata Guru. Aku ingat dan percaya kata-kata itu. Rasanya aku pun memahaminya dengan benar, sampai beberapa saat lalu.

Bermula dari kegalauan. Atau barangkali lebih tepat bila kusebut kecewa dan sakit hatiku.

Aku tahu bahwa kenyataan pahit akan kutemui dalam kehidupan. Kenyataan sering berbeda jauh bahkan kadang berbanding terbalik dengan angan dan harapanku. Orang bilang mestinya aku sudah akrab dengan kecewa, sedih, pedih-perih dan sakit hati. Aku sudah kebal, seharusnya.

Namun kali ini rasanya jauh berbeda.

Impian yang kubangun bertahun-tahun, perlahan tapi pasti hancur berantakan. Musnah tanpa bisa kucegah. Tersisa aku dan derita batinku.

Dalam saat seperti ini, tak ada tempat yang kutahu bisa kutemukan ketenangan dan penghiburan. Namun aku tahu bahwa Guruku akan mau menerima keluh kesahku. Sekedar itu pun rasanya sudah cukup buatku saat ini.

Dengan susah payah kusampaikan permasalahan yang menghimpitku kepada Beliau. Tentang cita dan anganku yang musnah. Tentang harapan hampa. Dan rasa sakit serta kecewaku yang mendalam. Aku mengharap sekedar kata hiburan atau sedikit nasihat untuk menghidupkan kembali semangatku. Karena itu aku terkejut setengah mati dan hampir tak percaya akan apa yang kudengar.

Tuliskanlah”, katanya singkat.

Aku setengah tak percaya. Aku mintakan pengobatan dan penghiburan atas dukaku, namun Beliau minta aku menuliskan semuanya? Apakah maksudnya agar deritaku abadi?

Tuliskanlah”, katanya lagi. Kuihat wajahnya mengeras dan perlahan memucat. Entah apa yang dirasa atau dipikirkannya. Namun aku jadi yakin bahwa perintahnya itu sungguh-sungguh mesti kulakukan.

Jadi, di sinilah aku malam ini. Menghadapi kembali laptop tua peninggalan Abah.

Mulanya terasa berat dan pedih. Butuh waktu lama untuk mengetikkan satu kata. Namun aku terus paksakan diri untuk menulis semua yang ingin kutulis. Kemudian semuanya menjadi jauh lebih mudah. Serasa kata-kata yang tak kukeluarkan di depan Guru sekarang ini berlompatan keluar begitu saja. Kemudian kukirim semua kepada Guru.

Aku merasa lelah lalu jatuh terlelap. Dan ini adalah untuk pertama kali setelah berminggu-minggu aku bisa tidur nyenyak.

Esoknya kusambangi Guru kembali. Kulihat wajahnya masih sekeras kemarin. Dan makin pucat.

Beliau memandang aku sejenak lalu mengomentari tulisanku. “Tulisan ini seperti membuat jejak. Suatu saat dalam perjalanan hidupmu, mungkin akan kau temukan kembali jejak itu. Saat itu kamu tak perlu berlama-lama terpuruk karena kamu tahu pernah berada disitu. Lalu kamu bisa pergi ke arah mana pun kamu mau. Secepatnya. Atau mungkin suatu saat nanti kau merasa perlu untuk melihat kembali jejak-jejak ini, hanya untuk merasakan kepahitannya, dan saat itu mungkin akan kau temukan sedikit rasa manis di dalamnya.”

Aku terpaksa menanyakan hal yang sejak kemarin menggangguku, “Jadi, deritaku akan abadi, Guru?”

Tulisanmu akan abadi.” Katanya. Lalu dilanjutkannya, “Sedangkan deritamu adalah milikmu sendiri. Kau boleh bawa dia seumur hidupmu kalau kau mau. Atau kau tinggalkan rasa pedih itu di tulisanmu ini saja…”

Aku merasa mulai mengerti apa yang Guru maksudkan. Jadi aku beranjak pergi. Saat itulah sekilas aku melihat wajahnya yang bertambah keras dan pucat.

Aku tak tahu apakah Guru sedang merasakan kembali keterpurukannya di masa lampau ataukah dia sedang mencoba mencari rasa manis dalam kepahitan hidupnya. Aku merasa tak berhak mencari tahu. Yang jelas, aku merasa lega karena aku tahu bahwa aku tidak sendirian dalam merasakan pedih perih ini.

Bumi Allah, Awal Desember 2018

Nurayny T. Az Zahra