Status Abadi

Yang Tersirat Dalam Perintah

Perintah untuk bertauhid dan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua sudahlah jelas. Namun di dalam rincian perintah tentang berbakti kepada kedua orang tua itu ada pesan tentang kedudukan seorang anak di hadapan kedua orang tuanya.

Pesan itu tersirat di dalam perintah-perintah: Jangan berkata “ah”, Jangan membentak, Ucapkan perkataan mulia, Rendahkan diri dan Doakan kedua orang tua.

Kesemuanya menunjukkan adanya pesan bahwa kedudukan seorang anak haruslah dalam posisi rendah bila berhadapan dengan kedua orang tuanya.

Hal ini diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata bahwa ada seseorang mendatangi Nabi Muhammad SAW, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak. Namun orang tuaku membutuhkan hartaku. Rasulullah kemudian menjawab,

أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ فَكُلُوا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُمْ

Engkau dan hartamu milik orang tuamu. Sesungguhnya anak-anakmu adalah sebaik-baik hasil usahamu. Makanlah dari hasil usaha anak-anakmu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Hadits tersebut di atas jelas menyebutkan bahwa seorang anak beserta harta yang dimiliki oleh anak itu adalah milik orang tuanya.

Dengan demikian, tergambarkan secara tegas betapa kedudukan seorang anak di hadapan kedua orang tuanya adalah kedudukan yang sangat rendah. Dalam kedudukan seperti ini, maka perintah Allah SWT agar seorang anak berbakti kepada orang tuanya adalah hal yang sangat wajar.

Tuntutan Normatif

Di dalam ayat 23 surat Al Isra sebagaimana telah dikutipkan di bagian atas, tuntutan dari Allah SWT kepada setiap anak adalah berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Perbuatan baik ini jika dibandingkan dengan perbuatan baik kedua orang tuanya keapada sang anak, sebenarnya tidak ada apa-apanya sama sekali.

Kebaikan orang tua kepada anak adalah kebaikan yang teramat sulit untuk dapat ditandingi oleh kebaikan anak kepada orang tuanya. Misalnya sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوْكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (Dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Imam Muslim)