Menantu

 

 

Bismillaah

MENANTU

Insyaallah kalo nanti saya punya mantu perempuan, saya akan berterima kasih kepadanya.
Dia rela meninggalkan orangtua yg menyayanginya untuk berkhidmat pada pria yg baru dikenalnya bbrp waktu.
Dia juga yg akan menggantikan bbrp tugas yg biasanya saya kerjakan untuk anak laki2 saya.

Iya betul, mgkn saya akan cemburu.
Pria tsb yg bertahun2 menemani saya akan pindah membina kerajaannya sendiri bersama permaisurinya yg dia cintai.
Tapi saya juga harus ingat, pria itu menjemput kebahagiaannya bersama wanita yg rela menemaninya dalam aneka keadaan.
Tentunya hidup bersama anak laki2 saya mungkin tidak selalu indah dan mudah.
Anak saya punya kelebihan, tapi pasti punya kekurangan.
Begitu juga mantu saya, dia punya kekurangan, tapi pasti ada kelebihannya.

Meskipun mantu saya tidak melewati masa sulit seperti yg saya alami untuk anak laki2 saya, krn dia tidak melahirkannya, tidak repot menyusui dan membesarkannya, tapi wanita itupun kelak insyaallah akan melahirkan dan membesarkan cucu2 saya.
Hanya masalah waktu tapi semua pasti melewati aneka pengorbanan yg tidak mudah.

Saya juga harus ingat untuk tidak membuatnya memilih.
Saya mungkin akan kangen sesekali, tapi saya akan tau jika anak laki2 saya tidak datang, pastilah dia punya banyak hal untuk dikerjakan.
Mungkin anak laki2 saya tidak datang krn dia enggan saya tau kesulitan yg terjadi dlm kerajaannya.
Mungkin dia belum menelpon karena saya tau ada hari2 dimana membeli pulsa adalah pilihan terakhir setelah membeli aneka keperluan pokok rumah tangga.
Tapi saya yakin, jika saya menyayanginya sepenuh hati, anak saya akan tau kemana hatinya terpaut meski kita tidak selalu bisa bertemu.
Dia akan tau bahwa saya akan selalu mendoakan dan menyayanginya.

Pun,
Insyaallah jika saya punya mantu laki2.
Saya akan berterima kasih padanya.
Dia yg akan menanggung semua hal tentang anak perempuan saya.
Dia bukan saja bertanggung jawab tentang materi, tapi agama dan aneka hal terkait pendidikan cucu2 saya pun akan beliau tanggung.
Dia juga rela mengumpulkan receh demi receh pendapatan pertamanya untuk diserahkan pada anak perempuan saya untuk dikelola.
Sementara orangtuanya yg mendidiknya sejak kecil mgkn merasa cukup dengan kabar bahwa rumah tangganya baik2 saja.
Dialah yg menjadi jalan surga neraka bagi anak perempuan saya sekarang.
Oh betapa Allah dengan segala ketetapannya yg pasti terbaik bagi hambaNya.
Seorang ibu mana yg tidak was2 anak perempuannya dibawa pria lain.
Apakah dia bisa jadi istri yg baik.
Apakah dia bisa mengurus suami.
Apakah kelak dia menjadi ibu yg baik.
Belum2 saya sudah merasa khawatir.

Saya juga harus ingat untuk tidak membuat anak perempuan saya merasa bersalah jika dia tidak bisa mengunjungi saya.
Mgkn dia ada masalah yg enggan jika saya tau.
Mgkn dia ada prioritas lain yg lebih darurat.
Ya, saya harus selalu ingat bahwa Allah telah menetapkan bahwa suaminyalah prioritas utamanya sekarang.
Tapi satu hal yg saya yakini, jika saya menyayangi anak perempuan saya dgn sepenuh hati, dimanapun dia berada, bersama suami macam apapun, dia akan tau bahwa saya senantiasa menyayangi dan mendoakannya.

Ya, semoga saya senantiasa ingat.

Bahwa saya tidak pernah memiliki apapun.
Yg tidak merasa memiliki maka tidak akan menuntut haknya.

Cukup sibukkan diri dengan mengecek apakah selama ini kewajiban thd Allah dan makhluk Allah lainnya sudah tertunaikan atau belum.
Maka insyaallah, Allah yang Maha Adil akan berikan hak saya meskipun saya tidak meminta.

Jikapun Allah memang jelas memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik pd saya sebagai orang tua,
Semoga sayapun kelak selalu ingat bahwa Allah juga memerintahkan kita untuk senantiasa menyayangi yg lebih muda.

Mantu saya adalah anak saya juga.
Meskipun tidak lahir dari rahim saya,
Tapi Allah kirim dengan “cuma2” untuk mendadak menjadi anak dengan kewajiban yg sama tanpa saya bersusah2 membesarkannya.

Inilah status seorang ibu yg berandai2, saat melihat anak2 cepat sekali besar kadang tanpa saya sadari.
Jika insyaallah ada umur, jika Allah berkenan mewujudkan semua ini, semoga Allah senantiasa membuat saya ingat.

Barakallaahu fiikum
♥ Bunda Kaska