Konsep Adil Dalam Islam

 

 

Keadilan yang dibicarakan dan dituntut oleh Al-Quran amat beragam, tidak hanya pada proses penetapan hukum atau terhadap pihak yang berselisih, melainkan Al-Quran juga menuntut keadilan terhadap diri sendiri, baik ketika berucap, menulis, atau bersikap batin dalam Q.S. al-An’am (6) ayat 152

“Dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” [QS 6: 152]

Allah gunakan kata adil dalam berperilaku berkaitan dengan urusan muamalah dalam Q.S. al-Baqarah (2) ayat 282

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan adil.” [QS 2: 282]

Kehadiran para Rasul ditegaskan Al-Quran bertujuan untuk menegakkan sistem kemanusiaan yang adil. Seperti dalam Q.S. al-Hadid (57) ayat 25

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” [QS 57: 25]

Bahkan Allah menegaskan bahwa Alam semesta ini ditegakkan atas dasar keadilan. QS ar-Rahman (55) ayat 7

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).” [QS 55: 7]

Ragam Makna Keadilan dalam Alquran

Kata adil (al-’adl) banyak dijumpai dalam Alquran, sebayak 28 tempat yang secara etimologi bermakna pertengahan. Alquran menangkap kata-kata yang mengandung makna keadilan,antara lain dengan kata al-’adl, al-qist, al-mizan, dan mempertentangkan pengertiannya dengan kezaliman, walaupun pengertian keadilan tidak selalu menjadi antonim kezaliman.

Adil dalam arti “sama”

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” [QS 4: 58]

Kata “adil” dalam ayat ini -bila diartikan “sama”- hanya mencakup sikap dan perlakuan hakim pada saat proses pengambilan keputusan.

Ayat ini menuntun sang hakim untuk menempatkan pihak-pihak yang bersengketa di dalam posisi yang sama, misalnya ihwal tempat duduk, penyebutan nama (dengan atau tanpa embel-embel penghormatan), keceriaan wajah, kesungguhan mendengarkan, dan memikirkan ucapan mereka, dan sebagainya yang termasuk dalam proses pengambilan keputusan. Apabila persamaan dimaksud mencakup keharusan mempersamakan apa yang mereka terima dari keputusan, maka ketika itu persamaan tersebut menjadi wujud nyata kezaliman.

Adil yang berarti ”sama” memberi kesan adanya dua pihak atau lebih. Karena jika hanya satu pihak tidak akan terjadi ”persamaan”. Sedangkan pengertian al-qist adalah “bagian yang wajar” patut (tidak harus sama dengan jumlah). Oleh karenanya, al-qist lebih umum dari pada al-’adl. Karena itu, Alqur’an menuntut seorang untuk berlaku adil terhadap dirinya sendiri.

Al-Quran mengisahkan dua orang berperkara yang datang kepada Nabi Dawud untuk mencari keadilan. Orang pertama memiliki sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sedangkan orang kedua hanya memiliki seekor. Pemilik kambing yang banyak mendesak agar diberi pula yang seekor itu agar genap seratus. Nabi Daud tidak memutuskan perkara ini dengan membagi kambing-kambing itu dengan jumlah yang sama, melainkan menyatakan bahwa pemilik sembilan puluh sembilan kambing itu telah berlaku aniaya atas permintaannya itu. QS Shad (38) ayat 23

Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka Dia berkata: ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan Dia mengalahkan aku dalam perdebatan’ [QS 38:23]

Adil dalam arti “seimbang”

Keseimbangan ditemukan pada suatu kelompok yang di dalamnya terdapat beragam bagian yang menuju satu tujuan tertentu, selama syarat dan kadar tertentu terpenuhi oleh setiap bagian. Dengan terhimpunnya syarat ini, kelompok itu dapat bertahan dan berjalan memenuhi tujuan kehadirannya.

QS Al-Infithar (82) ayat 6-7

“Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. [QS 82: 6-7]

Seandainya ada salah satu anggota tubuh manusia berlebih atau berkurang dari kadar atau syarat yang seharusnya, maka pasti tidak akan terjadi kesetimbangan (keadilan).

Contoh lain tentang keseimbangan adalah alam raya bersama ekosistemnya. Al-Quran dalam QS al-Mulk (67) ayat 3 menyatakan bahwa

“(Allah) yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?” [QS 67: 3]

Di sini, keadilan identik dengan kesesuaian (keproporsionalan), bukan lawan kata “kezaliman”. Perlu dicatat bahwa keseimbangan tidak mengharuskan persamaan kadar dan syarat bagi semua bagian unit agar seimbang. Bisa saja satu bagian berukuran kecil atau besar, sedangkan kecil dan besarnya ditentukan oleh fungsi yang diharapkan darinya.

Petunjuk-petunjuk Al-Quran yang membedakan satu dengan yang lain, seperti pembedaan lelaki dan perempuan pada beberapa hak waris dan persaksian -apabila ditinjau dari sudut pandang keadilan- harus dipahami dalam arti keseimbangan, bukan persamaan.

Keadilan dalam pengertian ini menimbulkan keyakinan bahwa Allah Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui menciptakan dan mengelola segala sesuatu dengan ukuran, kadar, dan waktu tertentu guna mencapai tujuan. Keyakinan ini nantinya mengantarkan kepada pengertian Keadilan Ilahi. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Rahman (55) ayat 5

“Matahari dan bulan beredar dengan perhitungan yang amat teliti.”

Juga dalam QS al-Qamar (54) ayat 49

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya”

Adil dalam arti “perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”

Pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau “memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat”. Lawannya adalah “kezaliman”, dalam arti pelanggaran terhadap hak-hak pihak lain. Dengan demikian menyirami tumbuhan adalah keadilan dan menyirami duri adalah lawannya. Sungguh merusak permainan (catur), jika menempatkan gajah di tempat raja, demikian ungkapan seorang sastrawan yang arif. Pengertian keadilan seperti ini, melahirkan keadilan sosial.

Adapun adil (al-’adl) dalam padanan kata al-mizan berasal darikata wazn yang berarti timbangan. Oleh karena itu, ia adalah alat untuk menimbang dalam rangka mencapai keadilan.

Dalam konteks dan makna ini, kata adil sinonim dengan al-wast dan al-qistAr-Ragrib al-Isfahani, memberi definisi adil dengan mu’adalah atau musawah yang berarti persamaan (equitable). Dengan demikian, kata adil mengandung pengertian pantas, wajar dan jujur yang merupakan lawan dari sikap curang, berat sebelah dan aniaya (zalim).

Adil yang dinisbatkan kepada Ilahi

Adil di sini berarti “memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu.”

Semua wujud tidak memiliki hak atas Allah. Keadilan Ilahi pada dasarnya merupakan rahmat dan kebaikan-Nya. KeadilanNya mengandung konsekuensi bahwa rahmat Allah SWT tidak tertahan untuk diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya.

Sering dinyatakan bahwa ketika A mengambil hak dari B, maka pada saat itu juga B mengambil hak dari A. Kaidah ini tidak berlaku untuk Allah SWT, karena Dia memiliki hak atas semua yang ada, sedangkan semua yang ada tidak memiliki sesuatu di sisi-Nya.

Dalam pengertian inilah harus dipahami kandungan firman-Nya yang menunjukkan Allah sebagai qaiman bilqisth (yang menegakkan keadilan) dalam QS Ali Imran (3) ayat 18

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

 

sumber: brillyelrasheed.wordpress.com/2015/08/10/konsep-adil-dalam-al-quran/amp/