“Galah” Birrul Walidain

posted in: Ketauhidan, Tips dan Trik | 0

Di dalam Bahasa Indonesia, dikenal peribahasa sebagai berikut: “Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Galah”. Arti secara sederhananya adalah bahwa kasih sayang seorang Ibu tidak ada batasnya, sementara kasih sayang anak sangatlah terbatas.

Sementara, Islam memandang kasih sayang, perhatian dan pemeliharaan anak terhadap orang tua, khususnya Ibu, bukan saja sebagai suatu perbuatan yang sebaiknya dilakukan tapi lebih merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi dalam bentuk birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua.

Firman Allah SWT di dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 14 memerintahkan kita untuk berbakti, berbuat baik kepada kedua orang tua kita, terutama Ibu yang telah bersusah payah mengandung kita: “dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Sesuai dengan peribahasa tadi, biasanya bakti anak kepada orang tua terbatas waktunya. Sebabnya adalah, pertama, biasanya seorang anak berbakti kepada orang tua bila sudah memiliki kemampuan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Sering diistilahkan dengan “sudah jadi orang”. Kemampuan ini lebih banyak diukur dari sisi material atau finansial. Dan kemampuan ini biasanya diperoleh sesudah seorang anak menjadi dewasa. Sebab yang kedua, jangka waktu antara seorang anak menjadi dewasa dan berhasil dari segi materi tersebut dengan akhir usia orang tua biasanya tidak terlalu lama.

Apakah memang harus demikian?

Waktu Dan Kemampuan Untuk Berbakti Kepada Orang Tua

Permasalahan utama, apakah untuk berbakti kepada orang tua harus menunggu sampai kita memiliki “kemampuan” finansial, menjadi seseorang yang dewasa dan berhasil dari segi materi, bisa ditilik dari berbagai ayat Al Qur’an yang memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua serta dari hadits-hadits Nabi Muhammad SAW.

Selain ayat 14 Surat Luqman di atas, kita juga bisa melihat dari firman Allah SWT di dalam surat Al Isra ayat 23 dan 24:”dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Sedangkan dari hadits Nabi Muhammad SAW, kewajiban berbakti kepada kedua orang tua dapat kita lihat dari hadits Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam shahihaian yang diriwayatkan dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd r.a..

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: “Aku bertanya kepada Nabi SAW; “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,”Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: ”Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab,”Berjihad di jalan Allah.” (HR Al Bukhari dan Imam Muslim)

Dari ayat-ayat Al Qur’an dan hadits di atas, secara tegas kita melihat bahwa tidak ada batasan minimal usia atau waktu untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Tidak ada perintah untuk menunggu sampai dengan dewasa atau memiliki kemampuan finansial.

Bahkan jika kita mengambil qiyas dari kewajiban shalat sebagai batasan awal untuk berbakti kepada orang tua, maka usia baligh atau usia sepuluh tahun haruslah diambil sebagai patokan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits berikut:

عَنْ عَمْرو بن شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan anak-anakmu shalat apabila telah berumur 7 tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat apabila telah berumur 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka”. (HR. Abu Daud dan yang lainnya)

Secara umum, seorang anak berusia 10 tahun biasanya belum memiliki kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri dalam hal materi atau finansial. Demikian juga dengan kedewasaan. Umur seperti itu masih dianggap anak kecil. Akan tetapi dalam kaitannya dengan berbakti kepada kedua orang tua, maka anak kecil seumur itu pun sudah diwajibkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Berkenaan dengan masalah kemampuan finansial, jika ditilik dari ayat 23 dan 24 surat Al Isra’ serta surat Luqman ayat 14, nampak jelas bahwa perintah Allah SWT untuk berbuat baik kepada kedua orang tua tidak menekankan kepada pemenuhan kebutuhan material atau pun finansial. Yang dituntut dari seorang anak menurut ayat-ayat tersebut adalah:

  1. Jangan mengatakan perkataan ‘ah’
  2. Jangan membentak
  3. Ucapkan perkataan yang mulia
  4. Rendahkan dirimu dengan penuh kesayangan
  5. Berdoa untuk keduanya
  6. Bersyukur kepada keduanya

Seluruh tuntutan dan tuntunan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua itu bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan biaya, jadi tidak mensyaratkan adanya kemampuan materi. Oleh karenanya, tidak ada cukup alasan bagi kita untuk menunda berbuat baik kepada kedua orang tua sampai dengan kita dewasa atau memiliki kemampuan finansial atau materi.

Menyikapi Waktu dan Kemampuan Untuk Berbakti Kepada Orang Tua

Setelah jelas bagi kita bahwa berbakti kepada orang tua tidak harus menunggu kita dewasa, memiliki kemampuan finansial atau “jadi orang”, maka kita perlu merekonstruksi kembali sikap kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Ada beberapa sikap yang harus kita ambil sehubungan dengan hal ini.

  1. Harus Menyegerakan

Berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang harus disegerakan. Salah satu alasannya adalah karena kita tidak mengetahui sampai kapan kita akan hidup bersama dengan mereka. Kematian pasti akan memisahkan kita. Kematian bagi tiap orang sudah ditentukan, namun kita tidak mengetahui kapan tepatnya. Hal ini dapat difahami dari firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 49: “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).

Banyak diantara kita yang suka menunda pekerjaan, termasuk ‘pekerjaan’ birrul walidain ini karena alasan berupa ketidakpastian akan waktu datangnya kematian. Karena belum tentu kematian akan datang segera, kita menganggap akan masih ada banyak waktu untuk berbakti. Pada umumnya, orang-orang juga akan menunggu sampai jadi orang “berhasil”, baru kemudian “menyenangkan” kedua orang tua.

Namun sebaliknya, seharusnya yang menjadi pedoman kita adalah kepastian akan datangnya kematian itu. Ajal pasti tiba. Oleh karenanya kita harus bersegera mengerjakan semua kewajiban kita dengan sebaik-baiknya. Kita penuhi kewajiban kita sebelum ajal menjemput. Kita seharusnya khawatir bahwa maut datang menjemput dalam waktu dekat.

Prinsip bersegera untuk mengerjakan kebaikan ini jugalah seperti yang dimaksudkan dengan firman Allah SWT di dalam Al Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 114: “Mereka beriman kepada Allah dan Hari Penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.

  1. Harus menggunakan semua sumber daya yang dimiliki

Sebagaimana sudah diungkapkan di atas, berbuat baik kepada orang tua bukan semata soal materi atau uang. Justru menurut Surat Al Isra’ ayat 23 dan 24 serta surat Luqman ayat 14, birrul walidain adalah masalah sikap dan perilaku.

Tentu saja sikap dan perilaku yang diinginkan dalam berbuat baik kepada orang tua ini, tidak berhenti sampai di sini saja. Sikap dan perilaku yang baik terhadap orang tua hanyalah sekedar permulaan.

Untuk permulaan ini kita perlu mengerahkan seluruh kemampuan dari dalam diri kita, untuk bersikap lemah-lembut, merendahkan diri dan mengeluarkan perkataan-perkataan yang akan membuat kedua orang tua kita merasa didudukkan pada singgasana kehormatan.

Seiring dengan bertambahnya kekuatan, pemahaman serta kemakmuran, kita tambahkan perbuatan baik kepada kedua orang tua kita. Sehingga dengan demikian birrul walidain menjadi proses yang terus berlangsung untuk memberikan penghormatan dan pemeliharaan terbaik bagi kedua orang tua kita.

Salah satu contoh puncak kebaikan kepada orang tua adalah sebagaimana digambarkan di dalam surat Yusuf ayat 100: “dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf, dan berkata Yusuf: ‘Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.

Di dalam ayat tersebut, Nabi Yusuf a.s. yang pada saat itu sudah menjadi orang yang “berhasil” dan berkecukupan secara materi, mengundang ibu-bapaknya datang ke tempatnya untuk tinggal bersamanya. Saat kedua orang tuanya datang, Nabi Yusuf a.s. memberikan penghormatan dengan mendudukkan keduanya di atas singgasana. Nabi Yusuf a.s. pun mengatakan perkataan-perkataan yang lembut serta membesarkan nama Allah SWT. Dalam kesempatan tersebut, Nabi Yusuf a.s. bahkan berusaha untuk tidak menyinggung perasaan saudara-saudaranya yang pernah berbuat sangat jahat dengan membuang dirinya, padahal momen itu sangatlah bisa digunakannya untuk membalas perbuatan saudara-saudaranya itu. Nabi Yusuf a.s. sengaja menahan diri demi menghormati kedua orang tuanya dan agar tidak mengurangi atau merusak kebahagiaan mereka saat itu.

Dengan demikian, Nabi Yusuf a.s. mencontohkan pengunaan berbagai sumber daya yang dimilikinya untuk birrul walidain ini, bukan saja dari kekayaan dan kedudukannya yang tinggi, tetapi juga dari keimanan dan kemampuannya memaafkan serta menjaga perasaan orang lain, meskipun orang lain itu pernah menyakitinya.

  1. Harus “To the Max

Sikap lain yang perlu kita ambil sehubungan dengan terbatasnya waktu untuk berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya semaksimal mungkin. Hal ini disebabkan oleh besarnya kedudukan dan ganjaran birrul walidain.

Di dalam hadits yang sudah disebutkan di atas, berbuat baik kepada kedua orang tua diletakkan pada urutan di atas jihad, sementara kita tahu bahwa para mujahid yang syahid mendapat balasan berupa surga. Di dalam hadits lainnya juga disebutkan keridhoan Allah SWT tergantung pada keridhoan kedua orang tua kita.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ’Amru r.a., bahwasanya ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (Hadits Hasan. HR Al Bukhari dalam Adabul Mufrod, at-Tirmidzi, al-Hakim, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir).

Hadits-hadits ini, ditambah adanya kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua yang tertuang di dalam ayat-ayat Al Qur’an seharusnya sudah cukup menjadi alasan bagi kita untuk mengerahkan seluruh kemampuan kita, sebesar-besarnya dalam rangka birrul walidain. Hal ini patut kita lakukan karena ridho Allah adalah sesuatu yang mahal harganya dan sangat besar ganjarannya. Jika kita bisa menggapai ridho Allah melalui ridho orang tua, maka sangat patut bagi kita untuk mengejar ridho orang tua. Oleh karenanya, birrul walidain “to the max” menjadi hal yang memang sewajarnya.

Memperpanjang “Galah”

Usia dan kemampuan kita yang terbatas membuat birrul walidain kita juga terbatas, dalam artian birrul walidain hanya bisa kita lakukan selama kedua orang tua kita masih hidup. Namun demikian, sebenarnya berbuat baik kepada kedua orang tua masih bisa kita lakukan setelah kedua orang tua kita meninggal, diantaranya berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW. Yang mungkin belum tergali adalah kemungkinan untuk bisa terus melakukan kebaktian bagi ibu-bapak kita meski kita sendiri sudah meninggal sehingga kita tetap mendapat keutamaan birrul walidain ini.

  1. Birrul Walidain setelah orang tua meninggal dunia

Bagi yang belum mengetahui, kesempatan birrul walidain dianggap selesai dengan wafatnya orang tua. Namun demikian, berdasarkan dalil yang kuat, kesempatan ini sebenarnya masih terbuka, meski orang tua sudah wafat. Berikut hadits yang diriwayatkan dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi berkenaan dengan hal ini. Ia berkata,

بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah SAW. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi SAW menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya, pen.). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi.)

Bentuk-bentuk bakti kepada kedua orang tua sesudah keduanya wafat juga secara tegas tidak mensyaratkan adanya kemampuan atau kelebihan materi. Bentuk birrul walidain ini lebih kepada sikap dan perilaku, serupa dengan yang dituntut sewaktu keduanya masih hidup. Oleh karenanya, sebagai anak, kita pun akan bisa melakukannya meskipun secara usia masih terbilang muda dan belum menjadi orang yang berhasil dari segi finansial.

Dengan melaksanakan berbagai tuntunan ini, Insyaa Allah kita sudah akan termasuk ke salam golongan anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya meskipun orang tuanya sudah wafat.

  1. Birrul Walidain setelah kita meninggal dunia

Pada kasus di atas dimana orang tua yang meninggal dunia, maka Islam melalui hadits Nabi Muhammad SAW telah memberikan petunjuk yang jelas tentang bagaimana cara anak berbakti kepada orang tuanya yang telah wafat tersebut. Namun, jika sang anak juga kemudian wafat, maka selesailah proses birrul walidain ini. Sebabnya adalah karena semua amal perbuatan manusia akan terputus dengan datangnya ajal, kecuali 3 hal sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW.

  عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ: « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ »

    Dari Abu Hurairah bahwa sungguh Rasulullah SAW telah bersabda: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya” (HR Imam Muslim).

Oleh karenanya, kita perlu menyikapi dengan cara pandang yang agak berbeda sebagai berikut: bakti kita kepada kedua orang tua bukan hanya sekedar agar kita memperoleh pahala dari Allah SWT karena kebajikan yang kita lakukan terhadap mereka, tetapi juga karena keinginan dan usaha kita agar kedua orang tua kita mendapatkan buah dari amal perbuatan yang pahalanya akan terus mengalir meski mereka sudah wafat.

Dengan cara pandang seperti ini, berbagai kesempatan yang kita miliki untuk berbakti kepada kedua orang tua akan kita manfaatkan bukan saja untuk memenuhi kewajiban kita semasa mereka hidup atau pun semasa kita hidup, namun juga setelah kita dan mereka tiada. Caranya adalah dengan melakukan salah satu atau sekaligus 3 perkara yang disabdakan oleh Rasulullah SAW di atas.

Kiat Praktis Memperpanjang “Galah”

Melakukan amalan-amalan yang pahalanya terus mengalir tersebut bisa dilakukan dengan beberapa bentuk:

  1. Dilakukan sendiri oleh orang tua kita semasa mereka hidup
  2. Dilakukan oleh kita sebagai anak atas nama kedua orang tua kita
  3. Dilakukan oleh orang lain sesudah kita tiada atas nama kita atau atas petunjuk kita untuk kedua orang tua kita yang sudah tiada

Gambaran untuk ketiga bentuk itu kira-kira sebagai berikut:

  1. Dilakukan sendiri oleh kedua orang tua kita semasa mereka hidup

Apabila sekarang ini orang tua kita masih hidup, maka sebagai anak yang berbakti kita perlu menunjukkan kepada mereka tentang pentingnya mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan menyiapkan bekal yang cukup. Diantara persiapan tersebut adalah dengan mengerjakan amal yang pahalanya akan terus mengalir. Kita perlu memberikan petunjuk kepada kedua orang tua kita tentang amalan -amalan tersbut. Petunjuk yang kita berikan mudah-mudahan akan dicatat Allah SWT sebagai bagian dari upaya menunjukkan jalan kebaikan yang akan mendapatkan pahala dari Allah SWT sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).

Artinya, jika kita mampu menunjukkan amalan yang terus mengalir pahalanya, apalagi kepada kedua orang tua kita, dan mereka mengerjakannya, maka kita sungguh dapat berharap bahwa hal itu akan dicatat Allah SWT sebagai bagian dari birrul walidain yang kita lakukan. Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk melakukannya dengan cara-cara yang sesuai dengan petunjuk Allah SWT, diantaranya dengan bahasa yang sopan dan memuliakan serta gaya yang lemah lembut.

  1. Dilakukan oleh kita sebagai anak, atas nama kedua orang tua kita

Apabila kedua orang tua kita sudah meninggal dunia, kita bisa mengerjakan amalan-amalan kebajikan atas nama kedua orang tua kita. Lebih baik lagi jika amalan-amalan itu termasuk kategori yang pahalanya akan terus mengalir meski kita sudah wafat. Misalkan saja menggunakan harta peninggalan mereka untuk shadaqoh jariyah, atau menyebarkan ilmu-ilmu kedua orang tua kita agar dapat dimanfaatkan oleh orang banyak. Harapan besar kita adalah agar kita dapat memperoleh bagian pahalanya serta bagian dari perbuatan baik kepada kedua orang tua.

Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. menyiratkan bahwa amal shaleh seorang anak akan bermanfaat bagi orang tuanya.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa ibunya Sa’d bin Ubadah meninggal dunia, ketika Sa’d tidak ada di rumah. Sa’d berkata,

يَارَسُولَاللَّهِإِنَّأُمِّيتُوُفِّيَتْوَأَنَاغَائِبٌعَنْهَا،أَيَنْفَعُهَاشَيْءٌإِنْتَصَدَّقْتُبِهِعَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ

Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dan ketika itu aku tidak hadir. Apakah dia mendapat aliran pahala jika aku bersedekah harta atas nama beliau?” Nabi SAW menjawab, “Ya.” (HR. Al Bukhari)

Dengan demikian, kita memiliki berbagai pilihan untuk dapat memberikan sebanyak mungkin ganjaran pahala bagi kedua orang tua kita melalui perbuatan baik atau amal shaleh yang kita lakukan. Tentu saja menjatuhkan pilihan pada amal shaleh yang akan terus mengalir pahalanya adalah pilihan yang cerdas.

  1. Dilakukan oleh orang lain sesudah kita tiada atas nama kita atau atas petunjuk kita untuk kedua orang tua kita yang sudah tiada

Apabila kita sudah menyusul orang tua kita yang telah meninggal dunia, tentunya kita tidak memiliki kendali terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang sepeninggal kita. Tentunya kita juga tidak dapat bersedekah atas nama orang tua kita.

Namun masih ada kesempatan bagi kita untuk berbuat baik kepda kedua orang tua kita melalui amal shaleh yang dilakukan oleh orang lain. Selain dengan mengamalkan 3 amalan yang akan terus mengalir pahalanya seperti disebutkan di dalam hadits Nabi Muhammad SAW di atas, kita juga bisa membuat Wasiat.

Di dalam pemahaman umum, wasiat selalu dikaitkan dengan harta peninggalan seorang yang sudah wafat. Hal ini sebagaimana difahami dari firman Allah SWT di dalam Surat Al Baqarah ayat 180: “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma´ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.

Namun sebenarnya wasiat juga bisa dalam bentuk lain misalnya nasihat yang baik seperti firman Allah SWT didalam surat Al ‘Ashr ayat 4: “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”

Oleh karenanya, bisa saja kita berwasiat agar orang lain sepeninggal kita melakukan amal shaleh untuk kedua orang tua kita. Dan semoga Allah SWT akan mencatat ini sebagai bagian dari upaya kita “memperpanjang galah” birrul walidain yang akan diganjarnya dengan keridhoan bagi kita.

Allohu musta’an.

 

Bekasi, 29 September 2017

Ustadz Toto Mulyoto (Abi Ihsan)

Anggota Grup WA Belajar Menulis

08161871453

toto_mulyoto@yahoo.com

akhyar1898.com

 

 

sumber gambar : hawasyi.wordpress.com