Berjalan Bersama

 

 

Seorang teman pernah curhat bahwa ia merasa kehilangan banyak hal setelah menikah. Sulit mengejar banyak hal yang dulu bisa ia lakukan sebelumnya

Pikir saya, itu wajar sekali.

Pernikahan terdiri dari dua orang yang punya pikiran dan kebutuhan di masing masing kepalanya. Tentu, setelah menikah pilihan kita jadi terbatas. Gak sebanyak sebelumnya saat masih sendiri.

Ada suami yang kepingin ngejar karir dengan pindah kantor keluar kota,

Eh… di rumah yang sama, ada istri yang udah terlanjur nyaman dengan tempat tinggalnya yang relatif dekat kemana mana.

Ada istri yang kepingin lanjut sekolah lagi,

Ah.. tapi gimana lah ternyata suami minta untuk tinggal di rumah menemani anak di masa emas mereka.

Terlalu berat?

Mari bicarakan tentang perbedaan isi kepala yang sangat sederhana.

Seperti suami yang tak bisa paham dimana letak asyiknya menonton drama delapan belas episode, dimana aktor dan aktrisnya susah dibedakan saking sama sama “cantik”nya. Hwakakakakaka..

Sebagaimana para istri heran kenapa jadwal tanding sebuah tim sepak bola bisa membuat suamu rela ga tidur semalaman karna takut kelewatan. Perasaan dulu pas diajak gantian begadang ganti popok, banyak bener dia kasih alesan, wkkwkwk..

Pernikahan,

Gak heran ia disebut sebagai salah satu ibadah tertinggi di agama kita.

Karena disana kita belajar tentang menerima apa adanya, tentang kompromi, tentang memperlebar rentang toleransi, tentang mengendalikan diri, tentang menjadikan bahagianya sebagai bahagia kita dan sedihnya adalah sedih kita juga.

But It always takes two to tango.

Pernikahan adalah kerja yang harus dilakukan bersama.

Mengganti aku dengan kita. Merubah rencana yang tadinya untuk diri sendiri, kemudian memilah mana yang visible buat dilakukan bersama.

Mungkin kemudian ada yang harus direlakan, karena memaksa itu terwujud berarti ada hak keluarga yang harus dikorbankan.

Semisal para istri yang memutuskan melepas karir cemerlangnya untuk menjadi ibu rumah tangga,

atau para suami yang gak lagi bisa ujug ujug kemrusung meninggalkan kerja hanya dengan alasan gak passion. Karena paham betul ada anak istri yang wajib dinafkahi.

***

Kita lupa bahwa ada banyak juga kebaikan yang hadir setelah hidup bersamanya.

Ternyata dengan adanya istri, kehidupan finansial suami menjadi sangat terjaga. Mengingat sewaktu masih bujang dulu, kelakuannya boros ga kira kira..

Ternyata setelah menikah, si perempuan mendadak jadi jago masak. Meracik bumbu dan bahan dapur yang dulunya sulit ia bedakan. Menghasilkan masakan masakan lezat dari dapur rumahnya.. iyaaa yang bagian ini bukan gw, iyaaaaaa.. ??

Ternyata menikah membuat mereka saling bertukar sifat baik. Suami yang dulunya cuek soal pengasuhan anak, perlahan berubah jadi Ayah yang turun tangan. Mengajak bermain, menemani belajar, dan membacakan buku setiap malam. BACAIN BUKU APA, BU IBUUUUK? YA HALO BALITA DONG AH, wkwkwkw..

Ternyata setelah beristri, suami tersulut semangat kerja yang berapi api demi bisa menyejahterakan anak dan istri, sehingga kemudian karirnya melesat tinggi sekali..

Ternyata meski gak belum bisa lanjut kuliah ke tingkat yang lebih tinggi, pernikahan mengasah kepekaan sang istri terhadap lingkungan sekitar. Ia pun membuka pintu rumah lebar lebar untuk anak anak tetangga bermain dan belajar. Menjadilah ia sumbu perubahan yang nyalanya berpijar pijar..

***

Setelah menikah, ternyata ada banyak yang bisa dicapai bersama sama. Hal hal yang bahkan ga terbayangkan bisa dilakukan sebelumnya.

“If you want to go FAST, go alone. But if you want to go FAR, then go together!” Begitu kutipan yang saya baca.

Walau tak secepat saat dulu masih sendiri, dan meski ada banyak hal yang harus direlakan untuk gak dipenuhi,

Percaya saja,

Bahwa bersamanya, apa yang kau bisa capai di masa depan akan jauh lebih dahsyat lagi!

Selamat pagi. Selamat menghebat bersama, Ayah Bunda! 😀

?Jayaning Hartami