TARHIB RAMADHAN Tentang Musim

posted in: Artikel, Rukun Islam | 0

Tentang Musim

Kita mengenal banyak musim. Berkenaan dengan buah, ada musim Rambutan, musim Mangga, musim Duren dan lain lain

Di negara kita ada musim Panas dan musim Hujan. Kadang ada yang menambah dengan musim Banjir. Di negara lain, seperti di Amerika Serikat, Jepang, Inggris, ada tambahan dua musim lagi, jadi totalnya empat musim, yaitu Musim Panas, musim Gugur, musim Dingin (atau musim Salju) dan musim Semi.

Berkenaan dengan hitungan bulan dalam kalender Islam, yaitu bulan Zulqoidah, Zulhijjah dan Muharram, kita mengenal satu istilah musim, yaitu musim Haji.

Berkaitan dengan itu, musim apa yang ada di bulan Ramadhan?

Menurut sebagian orang, jawabannya bisa banyak: Musimnya (orang jadi) taat, Musimnya (orang jadi) sholih/sholihah, Musimnya (orang rajin) Shalat, Musimnya (orang rajin) Baca Al Qur’an dan seterusnya.

-o0o-

Ini bukan jawabannya yang salah. Yang salah adalah pertanyaannya. Mengapa Ramadhan, bulan Suci, dijadikan musim?

Bulan Ramadhan memang datang setahun sekali, tetapi nilai-nilai keshalihan dalam bulan Ramadhan sama sekali bukan nilai-nilai yang ditujukan untuk penggunaan musiman atau temporer. Semua nilai kebaikan yang terkandung di dalam bulan Ramadhan adalah nilai universal (berlaku umum di semua tempat) yang abadi.

Contoh: Dalam bulan Ramadhan diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Di luar bulan Ramadhan pun, ajaran dan anjuran untuk berpuasa tetap berlaku. Dengan demikian kita mengenal adanya beberapa puasa wajib yang dilaksanakan di luar bulan Ramadhan. Misalnya Puasa untuk membayar hutang puasa bulan Ramadhan, Puasa Nazar, Puasa Kaffarat. Demikian juga kita mengenal adanya puasa-puasa sunnah di luar bulan Ramadhan, misalnya Puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa Dahr (seperti Nabi Daud; sehari berpuasa, sehari berbuka)

Contoh lain: Di dalam malam-malam bulan Ramadhan ada kesunnahan untuk mendirikan Shalat Tarawih. Setelah lewat bulan Ramadhan, bukan berarti bahwa kesunnahan shalat malam sudah selesai. Masih ada anjuran lain dalam ajaran Islam untuk mendirikan malam-malam sepi dengan shalat yang dikenal dengan nama shalat Tahajjud, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an Surat Al Isra ayat 79:

 

 

 

  1. dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.

Contoh ibadah lainnya adalah ibadah Zakat dan Shadaqah. Zakat Fitrah memang terkait dengan bulan Ramadhan saja. Namun zakat lainnya seperti zakat Maal, zakat hewan ternak, zakat pertanian dan lain-lain tetap ada aturannya dan tidak harus menunggu datangnya Ramadhan. Apabila telah sampai Haul dan Nishabnya, maka zakat harus dikeluarkan. Shadaqah pun demikian. Orang yang membutuhkan zakat dan shadaqah tidak menunda kebutuhannya sampai dengan tibanya Ramadhan yang akan datang. Kebutuhan mereka terus berjalan. Oleh karenanya zakat dan shadaqah dari orang yang mampu tetap harus dikeluarkan dan disampaikan kepada yang berhak meskipun di luar bulan Ramadhan.

Jadi, ibadah di bulan Ramadhan bukanlah ibadah musiman. Janganlah jadikan Ramadhan hanya semusim. Bahkan sebaliknya, jadikanlah bulan Ramadhan starting point untuk menjadi pribadi yang lebih shalih, untuk mengerjakan ibadah yang lebih besar kuantitas dan tinggi kualitasnya, serta untuk membina pergaulan dalam kondisi yang lebih syar’i.

Mudah-mudahan dengan demikian bulan Ramadhan kita nanti akan benar-benar bernilai.

Aamiin.

Bekasi, 14 April 2017

Toto Mulyoto (Abu Ihsan)

08161871453

toto_mulyoto@yahoo.com

akhyar1898.com

 

Motto: Hamba Allah Taat Sepanjang Waktu; Hamba Ramadhan Taat Sewaktu-waktu

sumber gambar : selingkaran.com